Keluarga Cendana kembali menjadi sorotan publik saat menggelar rangkaian acara yang menghangatkan hati. Prosesi siraman dan sungkeman putra sulung mereka, Darma Mangkuluhur Hutomo, menjadi titik awal dari pernikahan yang dinantikan banyak orang.
Acara yang berlangsung pada 9 Januari 2026 ini memiliki makna yang dalam, bukan hanya sebagai upacara tradisional. Mengusung kearifan lokal, momen ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul dan merayakan cinta yang terjalin di antara mereka.
Ritual Siraman dalam Tradisi Jawa Sangat Bermakna
Ritual siraman dalam budaya Jawa memiliki filosofi yang kaya, melambangkan pembersihan diri dari segala kotoran sebelum memasuki fase baru dalam hidup. Dalam acara ini, Darma terlihat khusyuk mengikuti setiap tahap prosesi yang berlangsung, menyaksikan tanda akan kehidupan rumah tangga yang akan datang.
Tommy Soeharto, sang ayah, mengenakan pakaian adat Jawa yang menunjukkan kebanggaan akan warisan budaya. Dengan busana beskap ungu tua dan blangkon khas, ia menambah kemeriahan prosesi ini, menandakan kedalaman tradisi yang mereka pegang teguh.
Dalam momen ini, Tata Regita juga tampil memukau dengan kebaya bermotif bunga. Kecantikan dan kesederhanaan busananya mencerminkan rasa hormat terhadap budaya yang selama ini menjadi identitas keluarga.
Perayaan yang Penuh Kehangatan dan Kekeluargaan
Acara ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga ajang reuni keluarga yang menjalin kehangatan. Kehadiran sanak saudara, kerabat, dan teman dekat menambah nuansa bahagia di tengah acara yang sakral ini.
Sebagai lambang persatuan, interaksi antara keluarga menunjukkan bahwa meskipun mereka memiliki perjalanan hidup yang beragam, ikatan darah tetap menjadi yang utama. Momen ini menjadi pengingat bahwa cinta dan dukungan keluarga selalu ada, terlebih di saat-saat penting seperti ini.
Pemberian doa dan harapan dari semua yang hadir menambah makna setiap detik dari acara ini. Terlihat para tamu saling berpelukan, menciptakan suasana damai dan penuh kasih sayang yang menyelimuti acara tersebut.
Busana Adat yang Mewakili Tradisi dan Harapan
Busana yang dikenakan oleh calon pengantin juga menjadi pusat perhatian selama acara berlangsung. Darma hadir dengan beskap biru langit yang dipadukan dengan ronce melati sebagai simbol kesucian dan harapan akan kehidupan yang bahagia di masa depan.
Setiap elemen dari penampilannya memiliki makna yang dalam. Misalnya, kain batik wahyu tumurun yang dikenakannya menggambarkan harapan akan keberkahan dan petunjuk dari Tuhan, menciptakan aura positif yang mengelilinginya.
Hal ini mencerminkan betapa pentingnya arti dari setiap detail dalam budaya Jawa, yang tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga spiritualitas. Inilah yang membuat acara seperti ini terasa lebih menggugah dan berkesan.











