Proyek kabel bawah laut yang ambisius ini tidak hanya berfokus pada kapasitas jaringan yang tinggi, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap keamanan dan kepatuhan hukum. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan terbaru menjadi acuan untuk menyesuaikan rute penanaman kabel, sehingga dapat meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.
Inisiatif ini digagas untuk meningkatkan konektivitas antar pulau dan negara, serta mendukung pertumbuhan ekonomi digital di kawasan. Memiliki rute yang aman, ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi industri teknologi informasi di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, banyak perhatian diberikan untuk memastikan bahwa semua proses berjalan dengan sesuai regulasi yang telah ditetapkan. Hal ini sejalan dengan visi untuk menciptakan infrastruktur yang tidak hanya efisien, tetapi juga ramah lingkungan dan aman bagi masyarakat.
Menggali Lebih Dalam Tentang Proyek Kabel Bawah Laut
Proyek kabel bawah laut sepanjang 1.128 kilometer ini dipecah menjadi dua segmen utama yang masing-masing memiliki karakteristik unik. Segmen pertama adalah Jakarta-Batam dengan total panjang 1.053,5 km, yang dikerjakan oleh Triasmitra secara mandiri.
Segmen kedua menghubungkan Batam ke Singapura, dengan panjang 75 km, melibatkan kerja sama antara Triasmitra dan Moratelindo. Kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk memastikan konektivitas yang lebih baik dan pengelolaan sumber daya yang efektif.
Penanaman kabel dilakukan dengan teknologi modern untuk memastikan proses yang lebih cepat dan efisien. Dengan menggunakan teknologi repeater yang dirancang secara ringkas, penanaman kabel dapat dilakukan bersamaan dengan penggelaran kabel lainnya.
Aspek Keamanan dan Sertifikasi Dalam Proyek Kabel Bawah Laut
Keamanan menjadi aspek krusial dalam setiap tahap proyek ini, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Kabel ditanam pada kedalaman maksimum untuk menghindari kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas kapal maupun kegiatan penangkapan ikan.
Chief Operating Officer PT Ketrosden Triasmitra Tbk, Dani Samsul Ependi, menekankan pentingnya desain kabel yang diperhitungkan dengan cermat. Dengan langkah ini, risiko kerusakan dapat diminimalisasi, sehingga menjamin kelangsungan layanan yang optimal.
Stasiun pendaratan kabel menjadi bagian penting dari infrastruktur ini. Tanjung Pakis di Karawang, misalnya, telah dibangun dengan standar tinggi dan memiliki sertifikasi Design Tier 3 yang menunjukkan kualitasnya.
Stasiun Pendaratan dan Dukungan Energi yang Signifikan
Pada sisi darat, dua titik landing station telah disiapkan untuk mendukung operasional kabel bawah laut. Di Tanjung Pakis, fasilitas ini memiliki daya awal 800 kW yang dapat ditingkatkan menjadi 1,6 MW, memastikan kebutuhan energi untuk spin-off pelayanan yang maksimal.
Satu lagi titik pendaratan, Tanjung Bemban di Batam, memanfaatkan daya listrik sebesar 2,5 MW dan telah mendapatkan berbagai sertifikasi ISO. Hal ini menunjukkan komitmen untuk menghadirkan layanan berkualitas tinggi kepada pelanggan.
Singapura juga menjadi tujuan dari kabel ini, di mana mendaratnya kabel difasilitasi di North Changi 1A. Langkah ini berfungsi untuk memperkuat hubungan digital antara kedua negara dan meningkatkan perdagangan.













